MASA KEDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA

TUGAS SEJARAH INDONESIA
KELAS XI - SEMESTER II


Disusun oleh :

(20)
(23)

XI MIPA 2
SMAN 33 JAKARTA


1. Mengidentifikasi mengenai masa awal kedatangan Jepang dengan membuat garis waktu kedatangan Jepang
  


2. Menjelaskan faktor yang menyebabkan Jepang melakukan kolonialisme dan imerialisme di Indonesia

Faktor yang menyebabkan Jepang melakukan kolonialisme dan imerialisme di Indonesia :

1. Adanya pertambahan penduduk yang cepat.
Pertambahan penduduk di Jepang membuat kebutuhan sandang dan pangan juga bertambah. Sedangkan sumber daya alam yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, Jepang melakukan perjalanan ke Asia Tenggara termasuk Indonesia yang sudah di diketahui memiliki banyak sumber Alam.

2. Wilayah Jepang yang sempit dan miskin sumber daya alam
Wilayah Jepang yang sempit tetapi penduduknya banyak membuat Jepang kesuitan memperoleh sumber daya alam. Selain itu, faktor iklim yang dimiliki Jepang membuat Jepang sedikit memiliki perkebunan dan pertanian. Oleh karena itu, Jepang melakukan perjalanan ke Asia Tenggara termasuk Indonesia yangdiketahui memiliki sumebr daya alam yang melimpah

3. Masalah Ekonomi
Kemajuan Industri di Jepang memaksanya untuk bisa menguasai sumbersumber alam yang berada di Indonesia terutama minyak tanah, timah, karet, dan lain-lain. Antara tahun 1929 dan 1930 terjadi krisis ekonomi dunia. Jepang nampaknya tidak begitu menderita, terbukti beberapa tahun kemudian ia sanggup bersaing dengan negara-negara Eropa untuk merebut pasaran ekonomi, dengan menggunakan politik dumping , yaitu menjual barang-barang dengan harga yang lebih murah di luar negeri daripada di Jepang sendiri. Agar penjualan yang dilakukan perusahaan itu tidak terjadi kerugian, maka dari pihak pemerintah memberikannya subsidi kepada perusahaan tersebut.

4. Adanya perkembangan industri yang begitu pesat, butuh daerah pasaran dan bahan mentah
Perkembangan industri yang begitu pesat membuat Jepang memerlukan bahan mentah seperti sumber minyak bumi, karet, timah dan lainnya. Selain itu, Jepang juga membutuhkan daerah pasar untuk menjual barang industrinya dan tidak ingin kalahsaing dengan negara Eropa.

5. Adanya pembatasan migran Jepang yang dilakukan oleh negara-negara Barat
Sejarah emigrasi bangsa Jepang dimulai pda tahun 1868 dengan keberangkatan kapal yang memuat para pemukim Jepang yang pertama ke Hawaii. Pada tahun-tahun selanjutnya, Amerika Serikat dan Amerika Latin menjadi tujuan yang disukai oleh para emigran bangsa Jepang. Dalam waktu 70 tahun sebelum Perang Dunia II, jumlah orang Jepang yang beremigrasi adalah sekitar 700.000.
Jepang mulai menyetop emigrasi saat timbul ketegangan antara Jepang dengan negara-negara Barat, dimana negara-negara di dunia menutup pintu untuk imigrasi dari Jepang, walaupun umpamanya wilayah Afrika maupun wilayah Amerika Selatan masing kosong dan luas.
Bangsa barat membatasi imigrasi bangsa Jepang karena takut akan superioritas Jepang membahayakan kedudukan mereka di Asia. Hal ini bermula ketika Jepang berhasil mengalahkan Rusia dalam perang tahun 1905.

6. Pengaruh ajaran Shinto tentang Hakko I Chi-u  (dunia sebagai keluarga), di mana Jepang terpanggil untuk memimpin bangsa-bangsa di dunia (Asia-Pasifik)
Besarnya pengaruh ajaran Shintoisme tentang Hokka-ichiu , banyak para
Antropolog Jepang pada tahun 1930 mengatakan bahwa Jepang dan seluruh negara
di Asia Tenggara yang salah satunya Indonesia merupakan saudara serumpun. Maka
dari itu tidaklah heran jika pada proses penaklukan Indonesia, Jepang menggunakan semboyan “saudara tua”. Karena di Indonesia mayoritas masyarakatnya beragam
Islam, maka Jepang di sisi sebagai saudara tua daerah Timur Raya juga menekankan
pada persamaan antara Shinto dan Islam. Jepang mengumbar harapan bahwa kaisar
akan beralih agama dan memeluk agama Nabi Muhammad, dan melukiskan suatu
gambar gilang-gemilang tentang dunia kekuasaan Islam yang berpusat di sekitar
Kaisar Khalifah Jepang Raya.

7. Ingin menjadi negara besar yang sejajar dengan negara – negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis
Tujuan Jepang menjadi Negara imperalisme adalah untuk menyamakan kedudukan dengan Negara lain khususnya Negara barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis. Dengan melakukan ekspansionisme ke wilayah – wilayah yang memiliki potensi bahan-bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi di Jepang. Bangsa Jepang mengamankan wilayah-wilayah yang mendukung proses industrialisasinya, baik wilayah yang memiliki sumber daya alam maupun wilayah yang memiliki potensi sebagai pasar hasil industrinya khususnya wilayah Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah.

3. Menganalisis kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masa Jepang 

Kehidupan di bidang sosial
Hampir semua lapisan masyarakat dikerahkan untuk membantu jepang dalam menghadapi perang. Pengerahan itu seperti membantu tentara jepang, menanam tanaman yang sangat diperlukan oleh jepang, dan kerja paksa. Jepang pertama kali memilih kelompok pemuda dalam pengerahannya sebab pemuda biasanya berani dan memiliki kekuatan fisik yang cukup. Selain mengerahkan para pemuda, jepang juga mengerahkan tenaga rakyat desa untuk dijadikan romusha atau pekerja paksa. Romusha dikerahkan untuk membangun sarana dan prasarana perang, seperti jalan raya, jembatan, lapangan udara, pelabuhan, dan benteng-benteng bawah tanah. Untuk mengerahkan tenaga kerja di desa-desa dibentuk panitia pengerahan tenaga kerja yang disebut Rumokyokai. Untuk menghilangkan ketakutan penduduk, jepang menyebut para romusha tersebut dengan sebutan prajurit ekonomi atau pahlawan pekerja.

Kehidupan di bidang politik
Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah Jepang selalu mengajak bekerja sama golongan-golongan nasionalis. Hal ini jelas berbeda dibandingkan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Saat itu golongan nasionalis selalu dicurigai. Golongan nasionalis mau bekerja sama dengan pemerintahan Jepang karena Jepang banyak membebaskan pemimpin nasional Indonesia dari penjara, seperti Soekarno, Hatta, dan juga Sjahrir.
Alasan Jepang mengajak kerja sama golongan nasionalis Indonesia karena Jepang menganggap bahwa golongan nasionalis ini memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat Indonesia. Saat itu, Wakil Kepala Staf Tentara Keenam Belas, Jenderal Harada Yosyikazu, bertemu dengan Hatta untuk menyatakan bahwa Jepang tidak ingin menjajah Indonesia, melainkan ingin membebaskan bangsa Asia. Karena itulah Hatta mererima ajakan kerja sama Jepang. Akan tetapi, Sjahrir dan dr. Tjipto Mangunkusumo tidak mererima tawaran kerja sama Jepang.
Namun, kemudian Jepang mengeluarkan undang-undang yang terkait pada bidang politik yang justru banyak merugikan bangsa Indonesia. Beberapa di antaranya:
1. UU No. 2 tanggal 8 Maret 1942, tentang larangan kepada pribumi untuk berserikat dan
berkumpul
2. UU No. 3 tanggal 10 Mei 1942, tentang larangan kepada pribumi untuk
memperbincangkan pergerakan atau proaganda perihal peraturan dan susunan Negara
3. UU tanggal 22 Juli tahun 1942, tentang larangan pendirian organisasi yang bersifat
politik.
Jadi begitulah tentang kondisi bangsa Indonesia dulu saat berada di bawah penjajahan Jepang. Beberapa kebijakan yang dikeluarkan Jepang justru menyengsarakan rakyat Indonesia.
Kehidupan di bidange konomi
Ketika menduduki indonesia, jepang menerapkan sistem ekonomi perang dan sistem autarki. Tugas lingkungan autarki adalah memenuhi kebutuhan sendiri, serta ketahanan daerahnya untuk memproduksi bahan-bahan kebutuhan perang. Untuk membiayai perangnya melawan sekutu, pemerintah pendudukan jepang melakukan ekploitasi secara besar-besaran terhadap sumber daya alam yang ada di indonesia. Eksploitasi tersebut salah satunya berwujud perintah penanaman wajib atas tanaman yang dapat mendukung perang, yaitu pohon jarak dan kapas. Tanaman jarak berguna sebagai bahan bakar pesawat dan pelumas senapan, sedangkan kapas untuk bahan pakaian.
Pemaksaan menanam pohon jarak dan kapas pada lahan pertanian itu merusak tanah milik petani. Akibatnya, produksi pangan menurun dan kelaparan serta kemiskinan meningkat drastis. Selain harus melakukan penanaman wajib, penduduk juga harus menyerahkan kekayaannya kepada pemerintah jepang, seperti barang-barang berharga (emas dan berlian), hewan, dan bahan makanan (beras). Disamping persoalan pangan, kebijakan perekonomian perang oleh jepang juga berdampak pada kebutuhan sandang rakyat indonesia. Karena bahan sandang langka, rakyat indonesia memakai pakaian dari bahan karung goni. Bahkan ada pula yang hanya menggunakan lembaran karet sebagai pakaian.

Kehidupan di bidang budaya
          salah satu kebijakan jepang dalam bidang jebudayaan adalah mendirikan sebuah pusat kebudayaan pada tanggal 1 april 1943. Pusat kebudayaan itu dikenal dengan nama keimin bunka shidosho. Pusat kebudayaan berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan dan menyebarkan kebudayaan jepang bagi bangsa indonesia. Pusat kebudayaan juga dimanfaatkan sebagai alat propaganda tujuan jepang tentang `persemakmuran Asian Timur Raya. Pusat kebudayaan juga bertugas menyeleksi karya-karya yang dapat mendukung tujuan pendudukan jepang.
          Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dalam arti luas, baik dalam pergaulan umum, di sekolah-sekolah dan perguruan, bahkan pemasangan papan nama toko. Iklan dan merek dagang, semuanya harus diganti dengan bahasa Indonesia atau bahasa jepang. Dalam hal penggunaan bahasa ini, bahasa indonesia berkembang dengan baik. Bahasa indonesia digunakan sebagai pengantar di sekolah dan dianggap sebagai pelajaran utama. Kebijakan pemerintah pendudukan jepang tersebut semakin mengukuhkan peran bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan di seluruh pelosok tanah air. Bahasa indonesia semakin dikenal oleh rakyat Indonesia dan semakin banyak rakyat Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehingga memudahkan komunikasi antarkelompok masyarakat di Indonesia.
         Perkembangan pesat bahasa Indonesia tersebut dijadikan alasan oleh beberapa Indonesia untuk mendesak kantor pengajaran jepang untuk mendirikan Komisi Bahasa Indonesia. Tugas komisi ini adalah menentukan pembentukan istilah, menyusun tata bahasa indonesia, dan kosakata bahasa indonesia. Pada tanggal 20 oktober 2603 (1943), pemerintah pendudukan jepang mengizinkan pembentukan komisi bahasa indonesia.
       Kebijakan jepang yang sangat ditentang oleh rakyat indonesia adalah perintah untuk melakukan penghormatan dengan cara membungkukkan badan menghadap ke timur ke arah matahari terbit. Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah seikeirei. Seikeirei bertujuan untuk menghormati kaisar (Tenno) jepang yang dipercaya sebagai keturunan dewa matahari. Penghormatan seikeirei biasanya diikuti dengan menyanyikan lagu kebangsaan jepang. (kimigayo). Tidak semua rakyat Indonesia dapat menerima kebiasaan ini, khususnya dari umat islam. Penerapan seikeirei ini ditentang umat islam, salah satunya perlawanan yang dilakukan oleh seorang pemimpin pondok pesantren sukamanah (Jawa Barat) bernama K.H.Zaenal Mustafa.




DAFTAR PUSTAKA :



Postingan populer dari blog ini

Kembali